Sabtu, 13 April 2019

Usaha Melupakan Sendirian

Semoga apa apa yang sedang kita jalani sekarang tidak salah.
Semoga sesuatu yang saat ini kita yakini tidak akan menimbulkan sesal di kemudian hari.
Semoga segala hal yang kita alami beberapa bulan ini tidak bersangkut paut untuk masa depan.
Semoga sikapmu ke aku tidak ada yang kamu tutupi, benar benar begini adanya.
Perihal apapun yang ada diantara kita, hal hal yang pernah kita lewati, yang tak lepas dari ingatan atau aku saja yang mengingat.
Semoga apa yg ingin ku selesaikan ini kamupun tidak ingin memperjuangkannya.
Semoga usahaku melupakan, menghentikan dan menghandle perasaan tidak sia-sia.
Semoga hari hari lalu tidak membuatku menyesal karna pernah melewatinya denganmu.
Dan semoga tidak ada kata 'terlambat' diakhir cerita ini nanti.
Terima kasih untuk mau melakukan ini itu bersama ku dengan sewajarnya.
Terima kasih untuk sikapmu saat ini yang memperlihatkan betapa kamu mengurangi porsi kedekatan kita dan itu sangat membantuku.
Sejujurnya aku ingin memperjelas sebelum ku selesaikan sepihak. Tapi kuyakin itu tidak akan membantu apapun untuk kedepannya. Lebih baik seperti ini.

Rabu, 20 Maret 2019

Penerima Harapan Palsu

Kepada kamu yang betah berlama2 tanpa terarah. Aku wanita, punya rasa. Tolong, jangan buat aku nyaman tanpa alasan. Menggedor hatiku hingga luluh, mengawali pagi dan mengeluh kamu.

Kita tak pernah salah, kau tamu dan aku tuan rumah. Seperlunya saja kau mampir, jangan berlama2. Secangkir teh mu telah habis, maka pulanglah.
Iya, kau hadir dan aku menyambutnya. Menerimamu sebagai teman baru, itu tak pernah salah bukan?

Tapi kau lancang, sering buat aku terkesan. Kau sering berkata entahlah yang membuatku selalu berfikir kesana, kita. Kau membuatku yakin, adanya 'kita' selalu kau ingin.
Sekalipun kau tak selalu ada disebelah. Pesan2 singkat yang tiap menit kau kirim selalu nyata meracuni hati dan logika.

Obrolan panjang yang tiap malam kau sempatkan. Perhatian2 kecil yang tetiba membesar, beberapa tingkah kau seolah mendefinisikan kau berjuang.
Jika kau pikir sedari awal aku langsung jatuh? tidak, kau salah. Beberapa hal, kau sering membuatku ilfeel. Dan jika pertahanan mulai goyah, perasaan mengajak menyerah, berulang kali aku menanamkan; ini hanya sementara, dia tidak serius. Seperti kalimat diatas, terlalu lama. Tidak sebentar kau menemani pagi siang malamku. Aku kalah. Kukira kaupun demikian, merasakan hal serupa, jadi kawan kemudian tertawan dan kau nyatakan, atau cuma penasaran?

Pada akhirnya aku tau, pilihanmu yang terakhir. Kau bisa saja mengelak, bisa saja membela diri. Sekalipun jika dunia tau, maka kau yang disalahkan.

Sekarang, rinduku menang namun kau hilang. Rasa ku memuncak dan kau tak tampak.
Bangkalan, 15 Juni 2016 (12:58 wib)

Sesekali Jadilah Aku

Sesekali jadilah aku. Yang selalu menanti chat darimu. Yang luar biasa rasanya jika mendapat pesan yg kau dului. Yang suka kesel kalo chat masih harus dibales sedang hanya kau baca saja. Yang selalu bolak balik buka wa hanya untuk melihat kamu online apa tidak. Yang selalu sebahagia itu saat kamu jadi first viewers statusku, padahal bukan ke aku saja. 

Sesekali jadilah aku. Yang tau banyak hal tentangmu, yang kau sukai dan yang kau hindari, paham betul jam tidurmu, makanan kesukaanmu, musik2 yang selalu kau dengarkan, mantan terakhirmu, bahkan tau kapan rencana menikahmu. 

Sesekali jadilah aku, yang sering salah tingkah jika berkomunikasi denganmu, yang tiba2 deg2an setiap mendengar langkah kaki mu mendekat, yang sangat bahagia melihatku punggungmu menjauh. -Lai,250219