Semoga apa apa yang sedang kita jalani sekarang tidak salah.
Semoga sesuatu yang saat ini kita yakini tidak akan menimbulkan sesal di kemudian hari.
Semoga segala hal yang kita alami beberapa bulan ini tidak bersangkut paut untuk masa depan.
Semoga sikapmu ke aku tidak ada yang kamu tutupi, benar benar begini adanya.
Perihal apapun yang ada diantara kita, hal hal yang pernah kita lewati, yang tak lepas dari ingatan atau aku saja yang mengingat.
Semoga apa yg ingin ku selesaikan ini kamupun tidak ingin memperjuangkannya.
Semoga usahaku melupakan, menghentikan dan menghandle perasaan tidak sia-sia.
Semoga hari hari lalu tidak membuatku menyesal karna pernah melewatinya denganmu.
Dan semoga tidak ada kata 'terlambat' diakhir cerita ini nanti.
Terima kasih untuk mau melakukan ini itu bersama ku dengan sewajarnya.
Terima kasih untuk sikapmu saat ini yang memperlihatkan betapa kamu mengurangi porsi kedekatan kita dan itu sangat membantuku.
Sejujurnya aku ingin memperjelas sebelum ku selesaikan sepihak. Tapi kuyakin itu tidak akan membantu apapun untuk kedepannya. Lebih baik seperti ini.
kotak keluh
Sabtu, 13 April 2019
Rabu, 20 Maret 2019
Penerima Harapan Palsu
Kepada kamu yang betah berlama2 tanpa terarah. Aku wanita, punya rasa. Tolong, jangan buat aku nyaman tanpa alasan. Menggedor hatiku hingga luluh, mengawali pagi dan mengeluh kamu.
Kita tak pernah salah, kau tamu dan aku tuan rumah. Seperlunya saja kau mampir, jangan berlama2. Secangkir teh mu telah habis, maka pulanglah.
Iya, kau hadir dan aku menyambutnya. Menerimamu sebagai teman baru, itu tak pernah salah bukan?
Tapi kau lancang, sering buat aku terkesan. Kau sering berkata entahlah yang membuatku selalu berfikir kesana, kita. Kau membuatku yakin, adanya 'kita' selalu kau ingin.
Sekalipun kau tak selalu ada disebelah. Pesan2 singkat yang tiap menit kau kirim selalu nyata meracuni hati dan logika.
Obrolan panjang yang tiap malam kau sempatkan. Perhatian2 kecil yang tetiba membesar, beberapa tingkah kau seolah mendefinisikan kau berjuang.
Jika kau pikir sedari awal aku langsung jatuh? tidak, kau salah. Beberapa hal, kau sering membuatku ilfeel. Dan jika pertahanan mulai goyah, perasaan mengajak menyerah, berulang kali aku menanamkan; ini hanya sementara, dia tidak serius. Seperti kalimat diatas, terlalu lama. Tidak sebentar kau menemani pagi siang malamku. Aku kalah. Kukira kaupun demikian, merasakan hal serupa, jadi kawan kemudian tertawan dan kau nyatakan, atau cuma penasaran?
Pada akhirnya aku tau, pilihanmu yang terakhir. Kau bisa saja mengelak, bisa saja membela diri. Sekalipun jika dunia tau, maka kau yang disalahkan.
Sekarang, rinduku menang namun kau hilang. Rasa ku memuncak dan kau tak tampak.
Bangkalan, 15 Juni 2016 (12:58 wib)
Kita tak pernah salah, kau tamu dan aku tuan rumah. Seperlunya saja kau mampir, jangan berlama2. Secangkir teh mu telah habis, maka pulanglah.
Iya, kau hadir dan aku menyambutnya. Menerimamu sebagai teman baru, itu tak pernah salah bukan?
Tapi kau lancang, sering buat aku terkesan. Kau sering berkata entahlah yang membuatku selalu berfikir kesana, kita. Kau membuatku yakin, adanya 'kita' selalu kau ingin.
Sekalipun kau tak selalu ada disebelah. Pesan2 singkat yang tiap menit kau kirim selalu nyata meracuni hati dan logika.
Obrolan panjang yang tiap malam kau sempatkan. Perhatian2 kecil yang tetiba membesar, beberapa tingkah kau seolah mendefinisikan kau berjuang.
Jika kau pikir sedari awal aku langsung jatuh? tidak, kau salah. Beberapa hal, kau sering membuatku ilfeel. Dan jika pertahanan mulai goyah, perasaan mengajak menyerah, berulang kali aku menanamkan; ini hanya sementara, dia tidak serius. Seperti kalimat diatas, terlalu lama. Tidak sebentar kau menemani pagi siang malamku. Aku kalah. Kukira kaupun demikian, merasakan hal serupa, jadi kawan kemudian tertawan dan kau nyatakan, atau cuma penasaran?
Pada akhirnya aku tau, pilihanmu yang terakhir. Kau bisa saja mengelak, bisa saja membela diri. Sekalipun jika dunia tau, maka kau yang disalahkan.
Sekarang, rinduku menang namun kau hilang. Rasa ku memuncak dan kau tak tampak.
Bangkalan, 15 Juni 2016 (12:58 wib)
Sesekali Jadilah Aku
Sesekali jadilah aku. Yang selalu menanti chat darimu. Yang luar biasa rasanya jika mendapat pesan yg kau dului. Yang suka kesel kalo chat masih harus dibales sedang hanya kau baca saja. Yang selalu bolak balik buka wa hanya untuk melihat kamu online apa tidak. Yang selalu sebahagia itu saat kamu jadi first viewers statusku, padahal bukan ke aku saja.
Sesekali jadilah aku. Yang tau banyak hal tentangmu, yang kau sukai dan yang kau hindari, paham betul jam tidurmu, makanan kesukaanmu, musik2 yang selalu kau dengarkan, mantan terakhirmu, bahkan tau kapan rencana menikahmu.
Sesekali jadilah aku, yang sering salah tingkah jika berkomunikasi denganmu, yang tiba2 deg2an setiap mendengar langkah kaki mu mendekat, yang sangat bahagia melihatku punggungmu menjauh. -Lai,250219
Sesekali jadilah aku. Yang tau banyak hal tentangmu, yang kau sukai dan yang kau hindari, paham betul jam tidurmu, makanan kesukaanmu, musik2 yang selalu kau dengarkan, mantan terakhirmu, bahkan tau kapan rencana menikahmu.
Sesekali jadilah aku, yang sering salah tingkah jika berkomunikasi denganmu, yang tiba2 deg2an setiap mendengar langkah kaki mu mendekat, yang sangat bahagia melihatku punggungmu menjauh. -Lai,250219
Jumat, 16 November 2018
11 Oktober 2016
Kau tidak benar-benar pergi. Hanya mengurangi porsi kedekatan kita. Aku tau ini perihal mudah bagimu, tapi tidak menurutku.
Sedari awal kau cuma penasaran, tidak serius. Dan kesalahanku, aku terlalu mendalami peran. Seketika aku tuli jika mendengar tentang ketidakbaikanmu. Ya, aku mengangkasa dan kau pilotnya.
Sekarang, selamat berbahagia dengan yang lain.
- Tulisan ini tersimpan lama di note ponsel
Sedari awal kau cuma penasaran, tidak serius. Dan kesalahanku, aku terlalu mendalami peran. Seketika aku tuli jika mendengar tentang ketidakbaikanmu. Ya, aku mengangkasa dan kau pilotnya.
Sekarang, selamat berbahagia dengan yang lain.
- Tulisan ini tersimpan lama di note ponsel
Kehilangan
Kehilangan selalu menjadi hal yang paling sulit untuk dilalui. Rasanya tidak ada yang mampu bersikap biasa-biasa saja setelah kehilangan. Bagian tersedihnya adalah meskipun aku sudah pernah mengalami kehilangan, tapi aku selalu mampu dibuat menangis seperti pertama kalinya aku merasakan kehilangan.
Bukan mudah melewati waktu tanpa seseorang yang telah menjadi kebiasaanku. Lantas, seluruh hidupku berubah 180°. Kamu melangkah pergi dengan kehidupan barumu, sementara aku tetap dengan kehidupanku yang masih ada kamu.
Kamu mungkin tidak tahu bagaimana tabahnya aku melihat pergantian status dan foto bahagiamu. Tidak selesai pada saat itu saja, setelahnya aku harus berhadapan dengan mereka yang dulunya mendukung hubungan kita. Aku harus meyakinkan seluruh dunia, bahwa aku baik-baik saja (meskipun sebenarnya belum) setelah kehilangan.
Menyakitkan, sungguh sangat menyakitkan.
Karena luka dan obatnya selalu dibuat terpisah.
Hingga aku tiba di hari harus selesainya luka-luka ini. Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk keluar dari kepompongku. Aku sadar, aku sudah terlalu lama bersembunyi dan bersahabat dengan luka. Aku hanya perlu bangkit, jatuh cinta lagi, dan berbahagia. Iya, BAHAGIA! 1 kata yang dulu rasanya tidak bermakna apa-apa.
Tapi sekarang, semuanya berbeda.
Jika aku pernah sedih akan kehilangan, bukan berarti aku terlalu lemah untuk menghadapinya. Namun, semua orang punya caranya sendiri untuk membasuh luka, juga waktu yang berbeda-beda untuk menyembuhkan diri.
Hari ini, aku ingin membicarakan kehilangan dengan sangat bahagia.
Terima kasih karena pernah ada di hari-hari itu.
Besok, aku tidak akan mengingatmu lagi sebagai kenangan, tetapi pelajaran.
Terima kasih untuk semua pengalaman yang kamu ciptakan.
Lusa, kita akan kembali menjadi dua orang asing.
Maka, terima kasih untuk sebuah masa lalu yang berharga.
Aku akan segera menyusulmu bahagia.
Darimu, aku akhirnya tahu: "Mungkin aku memang tidak ditinggal pergi, melainkan sengaja dibiarkan pergi untuk bertemu dengan seseorang yang lebih baik." Terima kasih sekali lagi untuk kebaikanmu. - Cindy Joviand
Bukan mudah melewati waktu tanpa seseorang yang telah menjadi kebiasaanku. Lantas, seluruh hidupku berubah 180°. Kamu melangkah pergi dengan kehidupan barumu, sementara aku tetap dengan kehidupanku yang masih ada kamu.
Kamu mungkin tidak tahu bagaimana tabahnya aku melihat pergantian status dan foto bahagiamu. Tidak selesai pada saat itu saja, setelahnya aku harus berhadapan dengan mereka yang dulunya mendukung hubungan kita. Aku harus meyakinkan seluruh dunia, bahwa aku baik-baik saja (meskipun sebenarnya belum) setelah kehilangan.
Menyakitkan, sungguh sangat menyakitkan.
Karena luka dan obatnya selalu dibuat terpisah.
Hingga aku tiba di hari harus selesainya luka-luka ini. Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk keluar dari kepompongku. Aku sadar, aku sudah terlalu lama bersembunyi dan bersahabat dengan luka. Aku hanya perlu bangkit, jatuh cinta lagi, dan berbahagia. Iya, BAHAGIA! 1 kata yang dulu rasanya tidak bermakna apa-apa.
Tapi sekarang, semuanya berbeda.
Jika aku pernah sedih akan kehilangan, bukan berarti aku terlalu lemah untuk menghadapinya. Namun, semua orang punya caranya sendiri untuk membasuh luka, juga waktu yang berbeda-beda untuk menyembuhkan diri.
Hari ini, aku ingin membicarakan kehilangan dengan sangat bahagia.
Terima kasih karena pernah ada di hari-hari itu.
Besok, aku tidak akan mengingatmu lagi sebagai kenangan, tetapi pelajaran.
Terima kasih untuk semua pengalaman yang kamu ciptakan.
Lusa, kita akan kembali menjadi dua orang asing.
Maka, terima kasih untuk sebuah masa lalu yang berharga.
Aku akan segera menyusulmu bahagia.
Darimu, aku akhirnya tahu: "Mungkin aku memang tidak ditinggal pergi, melainkan sengaja dibiarkan pergi untuk bertemu dengan seseorang yang lebih baik." Terima kasih sekali lagi untuk kebaikanmu. - Cindy Joviand
Langganan:
Komentar (Atom)