Rabu, 20 Maret 2019

Penerima Harapan Palsu

Kepada kamu yang betah berlama2 tanpa terarah. Aku wanita, punya rasa. Tolong, jangan buat aku nyaman tanpa alasan. Menggedor hatiku hingga luluh, mengawali pagi dan mengeluh kamu.

Kita tak pernah salah, kau tamu dan aku tuan rumah. Seperlunya saja kau mampir, jangan berlama2. Secangkir teh mu telah habis, maka pulanglah.
Iya, kau hadir dan aku menyambutnya. Menerimamu sebagai teman baru, itu tak pernah salah bukan?

Tapi kau lancang, sering buat aku terkesan. Kau sering berkata entahlah yang membuatku selalu berfikir kesana, kita. Kau membuatku yakin, adanya 'kita' selalu kau ingin.
Sekalipun kau tak selalu ada disebelah. Pesan2 singkat yang tiap menit kau kirim selalu nyata meracuni hati dan logika.

Obrolan panjang yang tiap malam kau sempatkan. Perhatian2 kecil yang tetiba membesar, beberapa tingkah kau seolah mendefinisikan kau berjuang.
Jika kau pikir sedari awal aku langsung jatuh? tidak, kau salah. Beberapa hal, kau sering membuatku ilfeel. Dan jika pertahanan mulai goyah, perasaan mengajak menyerah, berulang kali aku menanamkan; ini hanya sementara, dia tidak serius. Seperti kalimat diatas, terlalu lama. Tidak sebentar kau menemani pagi siang malamku. Aku kalah. Kukira kaupun demikian, merasakan hal serupa, jadi kawan kemudian tertawan dan kau nyatakan, atau cuma penasaran?

Pada akhirnya aku tau, pilihanmu yang terakhir. Kau bisa saja mengelak, bisa saja membela diri. Sekalipun jika dunia tau, maka kau yang disalahkan.

Sekarang, rinduku menang namun kau hilang. Rasa ku memuncak dan kau tak tampak.
Bangkalan, 15 Juni 2016 (12:58 wib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar